Kumpulan Catatan dan Cerita Anda

Duuh..mahalnya jadi warga negara yang tertib administrasi


Saya lahir di Kuningan Jawa Barat. Hampir 4 tahun saya tinggal menetap di rumah sendiri di Kabupaten Karawang. Perumahan Griya Kondang Asri, Kondang Jaya tepatnya. Dan selama itu pula saya belum mempunyai KTP serta Kartu Keluarga (KK) Karawang, masih menggunakan KTP asli daerah Kuningan, walaupun dari segi asministrasi lain seperti ID PLN & PBB sudah tertera alamat Karawang.

Sebulan yang lalu, saya bermaksud mengganti kependudukan saya (tanpa istri, karena saat ini istri saya beralamatkan Jakarta dan belum dapat Surat Pindah) menjadi warga Karawang, dimana saat ini saya bermukim. Namun, dikarenakan kesibukan pekerjaan, saya meminta tolong keluarga di Kuningan untuk membuatkan surat pindah dari daerah asal saya tersebut. Dan, cukup waktu 5 hari, Surat Keterangan Pindah itu sudah saya terima. Lumayan cepat, karena itu sudah termasuk waktu pengiriman via Pos dari Kuningan ke Karawang. Biaya yang dikeluarkan adalah  60ribu…

Hari ini Senin 14 Juni 2010 kebetulan saya libur, sengaja mengambil cuti, khusus untuk mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK). Pagi saya ke tempat pak RT. Setelah mendapatkan surat pengantar, saya bergegas menuju ke Kelurahan.

Saya tidak melihat prosedur dan alur proses di dinding informasi ataupun media lain tentang apa yang harus saya lakukan untuk membuat KTP dan KK tersebut. Dan, kebetulan di Kelurahan ada seorang bapak dengan pakaian PNS menyapa saya menanyakan maksud kedatangan saya. Dia kemudian mengajak saya ke ruangan dia, yang memang kepada dia lah saya harus mengurusnya.

Setelah saya serahkan berkas-berkas pendukung, dia memeriksa sebentar lalu mengintruksikan saya untuk pergi ke kantor Catatan Sipil. Baru saat itulah saya tau, ternyata untuk ke Kelurahan harus ke Catatan Sipil dulu, walaupun dalam hati saya yang awam berfikir “Kok gitu, apa gak kebalik? Instansi terdekat dengan rumah saya secara hirarki kan Kelurahan dulu..”. Tapi sudahlah, mungkin seperti itu prosedurnya.

Bermodal secarik kertas Surat Keterangan Pindah yang saya dapat dari Kuningan, yang memang disitu dituliskan “Untuk Catatan Sipil”, saya menuju Catatan Sipil Karawang, disana saya menuju sebuah loket dan setelah berkonsultasi, saya diberikan sebuah form untuk saya isi. Selesai mengisi, saya serahkan kembali ke petugas tersebut. Saat pengembalian, meminta KTP saya yang lama, dan KK jika ada.

“Whattt…??? ini pertanyaan becanda atau pertanyaan bodoh?” gumam saya dalam hati. Kalo udah ada surat keterangan pindah, ngapain juga harus ada KTP lama? Sedangkan KTP lama saya tentu saja sudah diserahkan ke petugas di Kuningan saat akan membuat Surat Pindah. Bagaimana sekarang bisa harus ada?

Akhirnya dia meminta copy-annya aja, yang kebetulan saat itu saya masih punya. Sebentar setelah petugas tersebut memeriksa data yang saya isi, kemudian bilang;

“Biaya administrasinya 25ribu Pak. Karena bapak juga terlambat mengurusnya, lebih dari 14 hari, maka ditambah denda 10ribu. Total jadi 35rb”

“Oooh..  biayanya segitu yah?” bilang saya sambil menyerahkan uang 100 rb. Dia kembalikan uang saya 65 ribu dan menyuruh saya untuk menunggu, nanti dipanggil katanya.

Setengah jam saya menunggu belum dipanggil juga, hingga tiba waktu istirahat. Jam 12 loket ditutup, terpaksa saya harus menunggu dia istirahat. 1 jam. Cape deeehh..!

Sambil menunggu, iseng saya baca-baca pengumuman-pengumuman yang ditempel seadanya di kaca. Oooh.. ternyata memang disitu disebutkan pernyaratan dokumen penunjang untuk Catatan Sipil. Juga biaya administrasinya. Biaya administrasi tersebut dituliskan mengacu ke Perda Karawang nomor 4 tahun 2009. Jadi penasaran.. isinya apa yah itu Perda..?

Saya juga ternyata punya teman senasib sepenungguan. Sambil ngobrol, baru saya tahu ternyata dia sudah pulang balik dari Kelurahan dia ke Catatan Sipil sebanyak 3 kali, sejak Jumat yang lalu, karena kekurangan admisnistrasi. Upppsss…. ternyata ada yg lebih parah dari gue..! Tapi dari omongannya, saya bisa membaca bahwa dia kurang mendapatkan kejelasan informasi dari Kelurahannya tentang alur / prosedur pengurusan KTP dan KK, sehingga harus 3 kali bolak balik, dengan waktu sekali balik sekitar setengah jam.

Selesai istirahat, jam 1 loket buka kembali dan tak lama dia langsung memanggil saya. Sepertinya saat loket mulai buka, Surat Keterangannya tinggal dia cek aja.

“Mas… mas..! mbok ya diselesaikan dulu toh tadi, tinggal cek dikit aja apa ruginya. Gak nyampe 5 menit, tadi pasti udah selesai. Gak mesti nyiksa orang disuruh nunggu 1 jam..! Please deh..!” gumam saya dalam hati.

Jam 1 lewat 20 saya kembali ke Kelurahan.

“Waduh.. kok kelurahannya kosong, gak ada orang sama sekali..!! Apa udah tutup ya?” fikir saya. Tapi ternyata tidak, selang 5 menit, orang yang tadi saya temui datang dengan motor Mio nya ke halaman kelurahan.

“Oooh… ternyata istirahatnya sampai jam 1 lewat 20 menit, lama juga! Jam 3 pulang. Enak…”.

Saya ikuti dia ke ruangannya.

“Mas, photonya salah nih.. harusnya berwarna..”, dia bilang ke saya.

“Lha.. itu kan berwarna pak..”, jawab saya

“Backgroundnya harus warna merah. Aturannya begitu, untuk kelahiran tahun ganjil, backgroundnya merah, sedangkan untuk tahun genap backgroundnya biru” ujarnya menjelaskan.

“Baru tau juga ada peraturan begini ..” gumam saya dalam hati. Memang waktu itu photo yang saya pake walaupun berwarna, backgroundnya putih.

Karena males ke rumah untuk mengutak atik sofcopy photo di laptop saya, saya pergi aja ke toko photo terdekat untuk mengedit background pas photo saya. Setelah diedit dan dicetak 2 lembar, saya bayar 4 ribu rupiah.

Saya balik lagi ke Kelurahan,  setelah menyerahkan 2 pas photo tersebut, dia nagih biaya administrasi.

“Semuanya 80 ribu mas..” ujar dia to the point.

“Upppsss…. mahal banget pak? Tadi saya diinformasikan pak RT Cuma 10 ribu perpengajuan. Karena dengan KK bukannya jadi 20 ribu?” bela saya.

“Iya, perlembarnya 10 ribu. 10 ribu untuk kelurahan, 10 ribu untuk Kecamatan, 10 ribu untuk Catatan sipil. Karena telat 14 hari, denda lagi 10 ribu. Karena bikin 2 (KTP dan KK-red), maka dikali dua, jadi 80 ribu”

“Ke Catatan Sipil lagi? Bolak balik dong, tadi kan saya udah! wasting time! Itu ketentuan dari mana asalnya pak? Saya gak melihat aturannya disini secara tertulis.” Ujar saya lagi.

“Itu memang dari sananya, memang ketentuannya seperti itu” ujar dia lagi.

“Mahal sekalllliii…?? Ya udah, kalo gitu saya buatkan deh bukti pembayarannya.. biar saya juga tau transparansinya..!”

“Saya gak bisa buat kwitansi mas!”

“Kenapa?”

“Karena kami memang gak pernah pake kwitansi! Mas rewel banget yah. Susah kalo yang minta KTP nya bekas mahasiswa mah! Apa-apa ditanyain!” nadanya mulai tinggi.

“Lho.. pak, kami itu warga. Kami kesini dgn maksud baik untuk tertib administrasi. Jika memang ada biaya sedemikian yg harus kami bayar, ya nggak apa-apa asal dibuat transparan. Dipampang di dinding pengumuman Kelurahan. Alur proses pembuatan KTP, biaya per alur proses..! Sehingga tiap orang yang akan buat KTP sudah tau perkiraan biayanya. Salah kalo kami tanya dasar biaya tersebut?”

“Ya udah bentar..! Mas sama seperti orang perumahan lainnya! Rewel..!!” gerutu dia sambil kemudian mencari arsip di lemari dia. Katanya sih ada surat dasarnya. Tapi alhamdulillah… GAK ADA! Entah pura2 mencari arsip, atau memang gak ada..!

Ternyata bukan gue aja yang nanya, hampir beberapa orang yang membuat KTP menanyakan hal yang sama. Dan kayaknya jawabannya pun sama seperti jawabannya kepada saya. Bilang kami rewel dan cukup dengan “Emang begitu dari sananya..!” Cape deh! Dan, kok bisa ya, setelah beberapa kali ditanyakan, selanjutnya dia tidak prepare dasarnya (jika ada) sehingga dia bisa menjelaskan lebih transparan ke pengaju KTP selanjutnya? Kesalahan berulang..!! OMG.. beginikah wakil rakyat yang terpilih menjalankan tugasnya sebagai public services..?? No corrective action..!

“Ya udah, mas maunya gimana?” ujarnya selesai mencari arsip yg gak ketemu.

“Ya mau gimana lagi, kalo gak ada dasarnya gak usah dicari! Udah, saya bayar nih 80 ribu! Kapan jadinya”  ujar saya.

“Minimal 14 hari. Bisa lebih dari itu..!”

“Whaaattttt…..???? minimal 14 hari?? Lama bangettt…!!!! Saya jalan kaki ke Kuningan bolak balik pun mungkin gak selama itu..!!!!”

Ketika saya tanya knapa lama, seperti biasa, dia hanya bilang. Emang seperti itu dari sananya Mas.. prosedurnya! Yang secara real, dia tidak bisa menunjukkan ada prosedurnya..!!

Dia juga bilang bahwa, saya juga yang harus datang ke Kelurahan nantinya untuk menanyakan dan mengambil apakah KTP nya udah jadi apa belum. Dia tidak menyerahkannya ka saya ataupun lewat kepala RW/RT tempat saya. OMG…. Public Service yang menyusahkan!

Saya telat 14 hari mengajukan surat pindah ke Kelurahan / Catatan Sipil aja di kenakan denda, sedangkan penyelesaiannya yang katanya minimal 14 hari dia (instansi pemerintah terkait) tenang-tenang aja..!!! IS IT FAIR..?????

Setelah menyerahkan 80 ribu rupiah, dengan sedikit mengumpat, akhirnya saya pergi meninggalkannya..! Percuma juga marah-marah terhadap dia, gak bakal ada penyelesaian yang berarti saat itu juga. Bagaimana hari-hari selanjutnya…? Gak tau, saya sangat menyangsikannya.

So, how much totally? 175 ribu..!  Dan, itu tanpa bukti pembayaran yang transparan… Itu harga dasar diluar ongkos kirim, ongkos transport, poto copy buat photo dll.

Saya sebagai pegawai, mungkin masih mampu untuk mengeluarkan biaya sebesar itu. Terfikir oleh saya, bagaimana dengan penduduk lain yang untuk makan 1 minggu, bahkan 1 hari ke depan belum pasti ada. Atau juga keluarga yang hanya bermodalkan gaji UMR, tetapi harus menyisihkan untuk makan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar sekolah anak, dll. Maukah dia mengeluarkan biaya segitu untuk hanya tertib administrasi? Tak heran jika saya pernah mendengar untuk mendapatkan pembagian makanan dari pemerintah, pelayanan kesehatan, dll, mereka bingung dan tersandung karena disyaratkan tidak ada KTP. Bukan tidak mau, tapi tidak mampu membuatnya. Karawang yang katanya lumbung padi terbesar, ternyata dari data terakhir adalah kabupaten dengan tingkat tertinggi masalah keukurangan pangan. Knapa sih, gak diperingan untuk hal-hal yang sepele seperti ini?

Sering kita dengar, termasuk yang saya dengar dari Pak Lurah Kondang Jaya Karawang Timur tempat saya bermukim, saat kampanye calon lurah beberapa tahun kemarin, “Ongkos pembuatan KTP… GRATIS!!, jalan-jalan akan diperbaiki, bla..bla..bla..” .

Buktinya? Nothing…! It’s totally… BULLSHIT!

Teman, mungkin banyak diatara kalian yang saat ini bekerja di Instansi Pelayanan Masyarakat. Saya tidak bermaksud menyalahkan bahkan membenci anda. Saya hanya ingin berbagi dan mengajak anda melihat dari sisi seorang personil non-instansi.

Saya kira, banyak sekali Pekerjaan Rumah nya, khususnya bagi instansi yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Mulai dari sosialisasi prosedur untuk proses tertentu, transparansi biaya, peningkatan kemudahan dan keramahan pelayanan, kecepatan pelayanan, kerapihan arsip, dll.  Betul, memang sistem yang harus berjalan disini, harusnya dimulai dari tingkat atas. Tapi, jikalau dari tingkat atas sendiri tidak memulainya, apakah kita sebagai pelaksana dan juga bagian dari masyarakat tersebut, hanya menunggu komando dan tidak punya nurani untuk memulai perubahan meringankan keinginan masyarakat yang punya itikad baik untuk tertib peraturan?

Saya tidak tahu, mungkin di daerah lain kondisinya lebih baik dari daerah saya. Karena, katanya semuanya diatur dalam Perda masing-masing daerah. Saya juga tidak tahu, apakah terjadi hal yang sama untuk pembuatan administrasi lain di daerah saya seperti SIM, Pasport/Imigrasi, Pajak, Pajak kendaraan, dll. Atau..lebih parah? Semoga sih tidak..

Tapi untuk saat ini, saya dan juga penduduk Karawang lain yang mungkin kurang beruntung nasibnya dalam hal ekonomi di banding saya, hanya bisa bilang..” Uuuhh… mahalnya jadi warga negara yang taat administrasi..”

Karawang
100614

4 tanggapan

  1. budaya seperti itu dah berlangsung turun temurun :)
    mampir : http://djiesaka.wordpress.com/

    14.06.10 pukul 4:55 pm

    • mudah2an sih jangan turun terus mas.. :)
      ok.. lam kenal!

      14.06.10 pukul 6:02 pm

  2. Ping-balik: Buku Tamu yang lucu « Various Notes

  3. interesting article .. I like this article, because it related to my research

    thanks for sharing

    22.07.10 pukul 9:25 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.