Kumpulan Catatan dan Cerita Anda

Archive for Juni, 2010

Buku Tamu yang lucu

2 minggu yang lalu, seperti yang pernah saya tulis, saya pernah kesal dengan pengurus pembuat KTP dan KK berinisial EK di desa Kondang Jaya, Karawang Timur tentang biaya pembuatannya yang tidak masuk akal dan tidak transparan sama sekali.
Setelah itu pula, tanggal 14 Juni 2010 saya coba bertanya via Buku Tamu di situs resmi Kabupaten Karawang (www.karawangkab.go.id) untuk sekedar mencari tau.

Awalnya saya salut melihat buku tamu ini, saya fikir ini adalah salah satu sarana yang bagus yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakatnya, secara 2 arah. Dan finally, berakhir kecewa.

Saya meng-klik tombol ”add new entry” pada Buku Tamu yang ada pada website tersebut. Kemudian muncul kolom yang harus saya isi, mulai nama, lokasi, email dan tentu saja message yang akan saya informasikan/tanyakan. Saya agak sedikit lupa detilnya yang saya tanya saat itu, tidak terlalu panjang, dan intinya simple saja, yang saya tanyakan tentang; ”Berapa standard biaya pembuatan KTP dan KK di Kabupaten Karawang, dan bagaimana isi Perda yang mengaturnya”.

Setelah saya isi message, saya tekan ”submit entry”, dan… muncul keterangan bahwa message telah disimpan. Hehe..memang, yang saya tulis tadi ternyata tidak mucul, disimpan katanya.

Hari ini, tepat lewat 14 hari saya mengajukan KTP dan KK, serta menulis message di Buku Tamu situs resmi Kab. Karawang tersebut. Hasilnya?

KTP dan KK belum jadi. Ketika saya tanya kenapa ke sdr EK (pengurusnya) di Kelurahan, katanya sedang ada masalah di pusatnya. ”Jangankan bapak yang tanggal 14, yang tanggal 7 aja belum jadi Pak..!”, dia menambahkan tanpa meresa bersalah. Wow…amazing..! Sibuk sekali orang-orang pemerintahan kita ya…?!?! Padahal, pas saya kemarin ngajuinnya telat 14 hari saja udah kena denda. Mmmm… mau gimana lagi, adil gak adil, karena kita bukan orang yang berpengaruh, ya telan aja bulat-bulat dan harus setuju kalo itu adil.. Beuh! Aing mah!!! Please deh… sia2 saya datang dan izin dari kantor hanya untuk sesuatu yang gak pasti gini.

Dan juga, alhamdulillah.. pertanyaan saya apalagi jawabannya di Buku Tamu situs Kab. Karawang juga GAK ADA TUH! Masih disimpan kayaknya, tapi entah ampe kapan..??? Mungkin juga pertanyaan saya terlalu unik, sehingga pantes untuk dimuseum-kan.
Sedemikian sulitnya kah pertanyaan saya yang simple itu, sehingga membutuhkan waktu untuk menjawabnya?
Bapak ini lucu..! Ya, kalo mudah mah, saya juga gak akan tanya Bapak atuuuhh..!

Ada sih tambahan 5 jawaban untuk pertanyaan yang berbeda di buku tamu tersebut, dan itu setelah saya. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang biasa, diawali dengan ”TERIMA KASIH….”.
Ck..ck..ck… hebat, menjawab pertanyaan yang mudah-mudah saja, dengan jawaban yang seolah respek dan tak ada masalah.
Seandainya saya nulis message tentang hal-hal yang baik, pasti deh cepat dijawab, biasa.., ”TERIMA KASIH DAN DIINFORMASIKAN….bla, bla, bla…”

Hari ini, saya menulis dengan pertanyaan yang hampir sama seperti yang saya tulis 14 hari yang lalu, dan seperti biasa, ketika saya tekan ”submit entry” muncul informasi message saya telah disimpan. Disimpan sampai kapan? Hehe…Entahlah…., mudah-mudahan sih segera.
Jadi ingat tentang fasilitas sms komunikatif program presiden SBY dulu, yang ternyata yang menjawab adalah mesin otomatis. Saya juga jadi bertanya pula tentang situs ini, siapakah gerangan yang menjawab pertanyaan di Buku Tamu ini? Bupati kah? Atau orang yang berkompeten yang ditunjuk Bupati? Atau orang yang hanya magang di kantor Bupati yang hanya disuruh nulis? Pesuruh? Heuheu.. teuing ah!

Sebuah fenomena yang aneh…
Lucu deh Buku Tamu kalian, Pak..

Iklan

Keistimewaan & Puasa Bulan Rajab

Pada hari Senin tanggal  14 Juni 2010 kita memasuki bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulannya  Allah. Mari kita simak ada apa di balik bulan Rajab  itu. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,  “Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka:

  1. Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan  ikhlas,  maka pasti  ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH  SWT;
  2. Barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj  ( 10 Juli 2010 ) akan mendapat pahala seperti 5 tahun  berpuasa;
  3. Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT;
  4. Barang siapa yang  berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3  Rajab ( 14 , 15, 16 Juni 2010 ) maka ALLAH akan memberikan pahala seperti  900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat;
  5. Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insyaallah permintaannya akan dikabulkan;
  6. Barang siapa berpuasa  tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka  Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga;
  7. Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam  bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu  dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang  siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan  pahalanya.”

Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam Mi’raj,  saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih  sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya  bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk  orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab  ini”.

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita : “Ketika kami  berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah  berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya  Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda  :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya  berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa   atas  mereka”.

Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya  mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di  bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam  kubur.”

Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa  satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat  mengelakkan dari siksa kubur?”

Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi  ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim  lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat  malam sekali dalam bulan  Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali  ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan  sholat malam satu tahun.”

Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab  adalah bulan ALLAH, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan  adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar  pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi dan orang orang  yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan  Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan  merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Selamat beribadah..

sumber milis [sekolah-kehidupan]


Kontingen Indonesia di Piala Dunia 2010

Meski gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 dan gagal pula saat mengajukan tuan rumah Piala Dunia 2020, Indonesia tak perlu berkecil hati. Pada pergelaran pesta olahraga terbesar dunia di Afrika Selatan kali ini, kita juga mengirimkan beberapa “wakil”, meski bukan di lapangan hijau. Siapa mereka? Simak daftarnya di bawah ini:

Pencak Silat

Sehari sebelum pesta pembukaan dilaksanakan, Afrika Selatan menggelar festival tahunan Musamba di Pretoria. Kali ini acara itu dibuat besar-besaran untuk menyambut Piala Dunia 2010. Tampil dalam festival 10 Juni 2010 itu antara lain adalah 35 murid pencak silat dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Afrika Selatan yang memukau penonton. Ini pertama kalinya pencak silat tampil dalam festival ini.

Bola Majalengka

Selain Jabulani (bola resmi Piala Dunia 2010 yang dibuat Adidas), Afrika Selatan juga mengundang pemasok bola lain untuk mendukung hajatan empat tahunan ini. Khususnya, untuk memproduksi souvenir resmi kejuaraan – yang juga dijual di berbagai tempat resmi.

Salah satu pemasok bola resmi itu adalah PT Triple S yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat. Selain dari Indonesia, Afrika Selatan juga mendatangkan bola dari Vietnam untuk maksud serupa.

Batik

Sangat mungkin Nelson Mandela akan tampil di pembukaan Piala Dunia 2010 dengan mengenakan pakaian batik dari Indonesia. Sejak kedatangannya ke Indonesia, pemimpin Afrika Selatan ini tergila-gila pada batik. Begitu cintanya pada batik Indonesia, sampai-sampai di banyak acara kenegaraan Nelson Mandela selalu mengenakan batik Indonesia rancangan Iwan Tirta. Tahukah Anda, ketika pengundian grup Piala Dunia 2010 Nelson Mandela juga mengenakan batik.

Nah, meski tim sepakbola Indonesia tak berlaga di Piala Dunia 2010, ternyatasejumlah produk Indonesia bisa “berlaga” di sana. Jadi, tak perlu berkecil hati, Indonesia tetap punya wakil di Piala Dunia 2010!

sumber : andriewongso.com


Duuh..mahalnya jadi warga negara yang tertib administrasi

Saya lahir di Kuningan Jawa Barat. Hampir 4 tahun saya tinggal menetap di rumah sendiri di Kabupaten Karawang. Perumahan Griya Kondang Asri, Kondang Jaya tepatnya. Dan selama itu pula saya belum mempunyai KTP serta Kartu Keluarga (KK) Karawang, masih menggunakan KTP asli daerah Kuningan, walaupun dari segi asministrasi lain seperti ID PLN & PBB sudah tertera alamat Karawang.

Sebulan yang lalu, saya bermaksud mengganti kependudukan saya (tanpa istri, karena saat ini istri saya beralamatkan Jakarta dan belum dapat Surat Pindah) menjadi warga Karawang, dimana saat ini saya bermukim. Namun, dikarenakan kesibukan pekerjaan, saya meminta tolong keluarga di Kuningan untuk membuatkan surat pindah dari daerah asal saya tersebut. Dan, cukup waktu 5 hari, Surat Keterangan Pindah itu sudah saya terima. Lumayan cepat, karena itu sudah termasuk waktu pengiriman via Pos dari Kuningan ke Karawang. Biaya yang dikeluarkan adalah  60ribu…

Hari ini Senin 14 Juni 2010 kebetulan saya libur, sengaja mengambil cuti, khusus untuk mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK). Pagi saya ke tempat pak RT. Setelah mendapatkan surat pengantar, saya bergegas menuju ke Kelurahan.

Saya tidak melihat prosedur dan alur proses di dinding informasi ataupun media lain tentang apa yang harus saya lakukan untuk membuat KTP dan KK tersebut. Dan, kebetulan di Kelurahan ada seorang bapak dengan pakaian PNS menyapa saya menanyakan maksud kedatangan saya. Dia kemudian mengajak saya ke ruangan dia, yang memang kepada dia lah saya harus mengurusnya.

Setelah saya serahkan berkas-berkas pendukung, dia memeriksa sebentar lalu mengintruksikan saya untuk pergi ke kantor Catatan Sipil. Baru saat itulah saya tau, ternyata untuk ke Kelurahan harus ke Catatan Sipil dulu, walaupun dalam hati saya yang awam berfikir “Kok gitu, apa gak kebalik? Instansi terdekat dengan rumah saya secara hirarki kan Kelurahan dulu..”. Tapi sudahlah, mungkin seperti itu prosedurnya.

Bermodal secarik kertas Surat Keterangan Pindah yang saya dapat dari Kuningan, yang memang disitu dituliskan “Untuk Catatan Sipil”, saya menuju Catatan Sipil Karawang, disana saya menuju sebuah loket dan setelah berkonsultasi, saya diberikan sebuah form untuk saya isi. Selesai mengisi, saya serahkan kembali ke petugas tersebut. Saat pengembalian, meminta KTP saya yang lama, dan KK jika ada.

“Whattt…??? ini pertanyaan becanda atau pertanyaan bodoh?” gumam saya dalam hati. Kalo udah ada surat keterangan pindah, ngapain juga harus ada KTP lama? Sedangkan KTP lama saya tentu saja sudah diserahkan ke petugas di Kuningan saat akan membuat Surat Pindah. Bagaimana sekarang bisa harus ada?

Akhirnya dia meminta copy-annya aja, yang kebetulan saat itu saya masih punya. Sebentar setelah petugas tersebut memeriksa data yang saya isi, kemudian bilang;

“Biaya administrasinya 25ribu Pak. Karena bapak juga terlambat mengurusnya, lebih dari 14 hari, maka ditambah denda 10ribu. Total jadi 35rb”

“Oooh..  biayanya segitu yah?” bilang saya sambil menyerahkan uang 100 rb. Dia kembalikan uang saya 65 ribu dan menyuruh saya untuk menunggu, nanti dipanggil katanya.

Setengah jam saya menunggu belum dipanggil juga, hingga tiba waktu istirahat. Jam 12 loket ditutup, terpaksa saya harus menunggu dia istirahat. 1 jam. Cape deeehh..!

Sambil menunggu, iseng saya baca-baca pengumuman-pengumuman yang ditempel seadanya di kaca. Oooh.. ternyata memang disitu disebutkan pernyaratan dokumen penunjang untuk Catatan Sipil. Juga biaya administrasinya. Biaya administrasi tersebut dituliskan mengacu ke Perda Karawang nomor 4 tahun 2009. Jadi penasaran.. isinya apa yah itu Perda..?

Saya juga ternyata punya teman senasib sepenungguan. Sambil ngobrol, baru saya tahu ternyata dia sudah pulang balik dari Kelurahan dia ke Catatan Sipil sebanyak 3 kali, sejak Jumat yang lalu, karena kekurangan admisnistrasi. Upppsss…. ternyata ada yg lebih parah dari gue..! Tapi dari omongannya, saya bisa membaca bahwa dia kurang mendapatkan kejelasan informasi dari Kelurahannya tentang alur / prosedur pengurusan KTP dan KK, sehingga harus 3 kali bolak balik, dengan waktu sekali balik sekitar setengah jam.

Selesai istirahat, jam 1 loket buka kembali dan tak lama dia langsung memanggil saya. Sepertinya saat loket mulai buka, Surat Keterangannya tinggal dia cek aja.

“Mas… mas..! mbok ya diselesaikan dulu toh tadi, tinggal cek dikit aja apa ruginya. Gak nyampe 5 menit, tadi pasti udah selesai. Gak mesti nyiksa orang disuruh nunggu 1 jam..! Please deh..!” gumam saya dalam hati.

Jam 1 lewat 20 saya kembali ke Kelurahan.

“Waduh.. kok kelurahannya kosong, gak ada orang sama sekali..!! Apa udah tutup ya?” fikir saya. Tapi ternyata tidak, selang 5 menit, orang yang tadi saya temui datang dengan motor Mio nya ke halaman kelurahan.

“Oooh… ternyata istirahatnya sampai jam 1 lewat 20 menit, lama juga! Jam 3 pulang. Enak…”.

Saya ikuti dia ke ruangannya.

“Mas, photonya salah nih.. harusnya berwarna..”, dia bilang ke saya.

“Lha.. itu kan berwarna pak..”, jawab saya

“Backgroundnya harus warna merah. Aturannya begitu, untuk kelahiran tahun ganjil, backgroundnya merah, sedangkan untuk tahun genap backgroundnya biru” ujarnya menjelaskan.

“Baru tau juga ada peraturan begini ..” gumam saya dalam hati. Memang waktu itu photo yang saya pake walaupun berwarna, backgroundnya putih.

Karena males ke rumah untuk mengutak atik sofcopy photo di laptop saya, saya pergi aja ke toko photo terdekat untuk mengedit background pas photo saya. Setelah diedit dan dicetak 2 lembar, saya bayar 4 ribu rupiah.

Saya balik lagi ke Kelurahan,  setelah menyerahkan 2 pas photo tersebut, dia nagih biaya administrasi.

“Semuanya 80 ribu mas..” ujar dia to the point.

“Upppsss…. mahal banget pak? Tadi saya diinformasikan pak RT Cuma 10 ribu perpengajuan. Karena dengan KK bukannya jadi 20 ribu?” bela saya.

“Iya, perlembarnya 10 ribu. 10 ribu untuk kelurahan, 10 ribu untuk Kecamatan, 10 ribu untuk Catatan sipil. Karena telat 14 hari, denda lagi 10 ribu. Karena bikin 2 (KTP dan KK-red), maka dikali dua, jadi 80 ribu”

“Ke Catatan Sipil lagi? Bolak balik dong, tadi kan saya udah! wasting time! Itu ketentuan dari mana asalnya pak? Saya gak melihat aturannya disini secara tertulis.” Ujar saya lagi.

“Itu memang dari sananya, memang ketentuannya seperti itu” ujar dia lagi.

“Mahal sekalllliii…?? Ya udah, kalo gitu saya buatkan deh bukti pembayarannya.. biar saya juga tau transparansinya..!”

“Saya gak bisa buat kwitansi mas!”

“Kenapa?”

“Karena kami memang gak pernah pake kwitansi! Mas rewel banget yah. Susah kalo yang minta KTP nya bekas mahasiswa mah! Apa-apa ditanyain!” nadanya mulai tinggi.

“Lho.. pak, kami itu warga. Kami kesini dgn maksud baik untuk tertib administrasi. Jika memang ada biaya sedemikian yg harus kami bayar, ya nggak apa-apa asal dibuat transparan. Dipampang di dinding pengumuman Kelurahan. Alur proses pembuatan KTP, biaya per alur proses..! Sehingga tiap orang yang akan buat KTP sudah tau perkiraan biayanya. Salah kalo kami tanya dasar biaya tersebut?”

“Ya udah bentar..! Mas sama seperti orang perumahan lainnya! Rewel..!!” gerutu dia sambil kemudian mencari arsip di lemari dia. Katanya sih ada surat dasarnya. Tapi alhamdulillah… GAK ADA! Entah pura2 mencari arsip, atau memang gak ada..!

Ternyata bukan gue aja yang nanya, hampir beberapa orang yang membuat KTP menanyakan hal yang sama. Dan kayaknya jawabannya pun sama seperti jawabannya kepada saya. Bilang kami rewel dan cukup dengan “Emang begitu dari sananya..!” Cape deh! Dan, kok bisa ya, setelah beberapa kali ditanyakan, selanjutnya dia tidak prepare dasarnya (jika ada) sehingga dia bisa menjelaskan lebih transparan ke pengaju KTP selanjutnya? Kesalahan berulang..!! OMG.. beginikah wakil rakyat yang terpilih menjalankan tugasnya sebagai public services..?? No corrective action..!

“Ya udah, mas maunya gimana?” ujarnya selesai mencari arsip yg gak ketemu.

“Ya mau gimana lagi, kalo gak ada dasarnya gak usah dicari! Udah, saya bayar nih 80 ribu! Kapan jadinya”  ujar saya.

“Minimal 14 hari. Bisa lebih dari itu..!”

“Whaaattttt…..???? minimal 14 hari?? Lama bangettt…!!!! Saya jalan kaki ke Kuningan bolak balik pun mungkin gak selama itu..!!!!”

Ketika saya tanya knapa lama, seperti biasa, dia hanya bilang. Emang seperti itu dari sananya Mas.. prosedurnya! Yang secara real, dia tidak bisa menunjukkan ada prosedurnya..!!

Dia juga bilang bahwa, saya juga yang harus datang ke Kelurahan nantinya untuk menanyakan dan mengambil apakah KTP nya udah jadi apa belum. Dia tidak menyerahkannya ka saya ataupun lewat kepala RW/RT tempat saya. OMG…. Public Service yang menyusahkan!

Saya telat 14 hari mengajukan surat pindah ke Kelurahan / Catatan Sipil aja di kenakan denda, sedangkan penyelesaiannya yang katanya minimal 14 hari dia (instansi pemerintah terkait) tenang-tenang aja..!!! IS IT FAIR..?????

Setelah menyerahkan 80 ribu rupiah, dengan sedikit mengumpat, akhirnya saya pergi meninggalkannya..! Percuma juga marah-marah terhadap dia, gak bakal ada penyelesaian yang berarti saat itu juga. Bagaimana hari-hari selanjutnya…? Gak tau, saya sangat menyangsikannya.

So, how much totally? 175 ribu..!  Dan, itu tanpa bukti pembayaran yang transparan… Itu harga dasar diluar ongkos kirim, ongkos transport, poto copy buat photo dll.

Saya sebagai pegawai, mungkin masih mampu untuk mengeluarkan biaya sebesar itu. Terfikir oleh saya, bagaimana dengan penduduk lain yang untuk makan 1 minggu, bahkan 1 hari ke depan belum pasti ada. Atau juga keluarga yang hanya bermodalkan gaji UMR, tetapi harus menyisihkan untuk makan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar sekolah anak, dll. Maukah dia mengeluarkan biaya segitu untuk hanya tertib administrasi? Tak heran jika saya pernah mendengar untuk mendapatkan pembagian makanan dari pemerintah, pelayanan kesehatan, dll, mereka bingung dan tersandung karena disyaratkan tidak ada KTP. Bukan tidak mau, tapi tidak mampu membuatnya. Karawang yang katanya lumbung padi terbesar, ternyata dari data terakhir adalah kabupaten dengan tingkat tertinggi masalah keukurangan pangan. Knapa sih, gak diperingan untuk hal-hal yang sepele seperti ini?

Sering kita dengar, termasuk yang saya dengar dari Pak Lurah Kondang Jaya Karawang Timur tempat saya bermukim, saat kampanye calon lurah beberapa tahun kemarin, “Ongkos pembuatan KTP… GRATIS!!, jalan-jalan akan diperbaiki, bla..bla..bla..” .

Buktinya? Nothing…! It’s totally… BULLSHIT!

Teman, mungkin banyak diatara kalian yang saat ini bekerja di Instansi Pelayanan Masyarakat. Saya tidak bermaksud menyalahkan bahkan membenci anda. Saya hanya ingin berbagi dan mengajak anda melihat dari sisi seorang personil non-instansi.

Saya kira, banyak sekali Pekerjaan Rumah nya, khususnya bagi instansi yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Mulai dari sosialisasi prosedur untuk proses tertentu, transparansi biaya, peningkatan kemudahan dan keramahan pelayanan, kecepatan pelayanan, kerapihan arsip, dll.  Betul, memang sistem yang harus berjalan disini, harusnya dimulai dari tingkat atas. Tapi, jikalau dari tingkat atas sendiri tidak memulainya, apakah kita sebagai pelaksana dan juga bagian dari masyarakat tersebut, hanya menunggu komando dan tidak punya nurani untuk memulai perubahan meringankan keinginan masyarakat yang punya itikad baik untuk tertib peraturan?

Saya tidak tahu, mungkin di daerah lain kondisinya lebih baik dari daerah saya. Karena, katanya semuanya diatur dalam Perda masing-masing daerah. Saya juga tidak tahu, apakah terjadi hal yang sama untuk pembuatan administrasi lain di daerah saya seperti SIM, Pasport/Imigrasi, Pajak, Pajak kendaraan, dll. Atau..lebih parah? Semoga sih tidak..

Tapi untuk saat ini, saya dan juga penduduk Karawang lain yang mungkin kurang beruntung nasibnya dalam hal ekonomi di banding saya, hanya bisa bilang..” Uuuhh… mahalnya jadi warga negara yang taat administrasi..”

Karawang
100614


Mommy marah sama Eric, ya?

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya  menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.

Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric.

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Aku  menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya.

Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric… Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

Anak adalah anugrah terbesar yang pernah Tuhan berikan pada kita bagaimanapun keadaanya. Dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Sesempurna apakah kita, hingga kita mengabaikannya saat dia muncul dengan segala ketidaksempurnaan?
Dekaplah dia, mungkin saat ini dia membutuhkan selimut hangat pelukanmu.

[Cristine Wili]


Kenapa bukan saya?

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru! Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Tiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabul. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikut, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ? …Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah.Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? … Kenapa bukan aku? … Bagian diriku yang mana yang kurang? … Mengapa aku diperlakukan kejam? …

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila Tuhan mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA YANG KITA MINTA.
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK; maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK.
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak-NYA.

Tuhan tidak pernah terlambat, DIA juga tidak tergesa-gesa namun DIA tepat waktu…
Selamat berkarya, dan jangan lupa berdoa senantiasa.

[Jimmy Ho]


Why do we read Quran, even if we can’t understand a single Arabic word?

Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?

Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.

Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”

Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”

Sang cucu membawa keranjang kotor hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”

Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.

“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.

Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.

“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.

Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.

“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”

Subhanallah…

——————-

sumber alhabib