Kumpulan Catatan dan Cerita Anda

Anak ibu kantin


Ibu Ida adalah penjual di kantin sekolah. Setiap pagi suami dan ketiga anaknya membantunya untuk berjualan. Anak pertamanya kelas 5 SD bernama Titin, kemudian Popo kelas 4 SD dan Ayu kelas 2 SD. Dan suaminya seorang pegawai swasta dengan gaji kecil. Pukul 5.00 pagi seluruh keluarga sudah bangun termasuk anak bungsunya. Walau masih kelas 2 SD Ayu sudah bisa membuat adonan bakwan dan godok-godok.

Anak keduanya mempunyai tugas memotong kol, wortel dan buncis untuk adonan bakwan dan mie. Sedangkan anak sulungnya membersihkan rumah dan menyiapkan seragam untuk adik-adiknya dan baju kerja ayahnya.

Pukul 6.30 mereka mulai mengangkat barang dagangan ke kantin sekolah yang jaraknya sekitar 5 meter dari rumah mereka. Terkadang barang dagangan yang dibawa terlalu banyak sehingga gerobak buatan suaminya itu tidak muat dan harus dibawa dengan tangan. Tanpa komando ketiga anaknya mengambil tugas masing-masing. Si sulung membawa kuah sambal, yang kedua membersihkan dapur dan halaman dan si bungsu membawa sapu lidi.

Pukul 7.00 semuanya sudah beres. Mereka sarapan di kantin dan siap untuk berangkat ke sekolah. Tepat 7.30 bel sekolah berbunyi dan ketiganya pamit ke ayah dan ibu mereka dan berlari menuju kelas.

Saat jam istirahat ketiga anak Ibu Ida berlari menuju kantin, bukan untuk jajan tetapi membantu Ibu mereka, biasanya kantin Ibu Ida adalah kantin favorit dan sangat ramai pembeli.

Sepulang sekolah ketiga anaknya menyerahkan tas mereka untuk diperiksa. Ibu Ida selalu bertanya mengenai nilai, pekerjaan rumah dan segala hal yang terjadi di sekolah. Setelah itu mereka di suruh pulang untuk ganti baju dan sholat. Setelah selesai sholat si sulung menggantikan ibunya. Di rumah Ibu Ida sholat dan masak untuk makan siang. Pukul 3 sore ketiga anaknya makan siang dan Ibu Ida membawa bekal untuk makan siang anak sulungnya.

Pukul 4 sore dia dan anak sulungnya menutup kantin dan bersiap untuk tutup. Popo dan Ayu datang membantu. Tidak lama kemudian suaminya pulang, teh dan makanan kecil sudah disiapkan Popo.

Hari-hari berlangsung dengan kehidupan yang pas-pasan. Apa mereka bahagia?? Ya mereka bahagia…,
Orang Yang Bahagia Adalah Orang Yang Pandai Bersyukur…

Perjuangan Ibu Ida tidak sia-sia. Dengan mengajarkan hidup susah, anak-anaknya mendapatkan pelajaran terbaik dari orang tuanya. Setelah menamatkan kuliahnya si sulung bekerja di Perusahaan Asing, anak keduanya di departemen pendidikan, seorang PNS tanpa uang muka. Dan si bungsu bekerja di perusahaan Jepang. Ketiganya sukses…. Dan ketiganya mampu menaikkan haji kedua orangtuanya.

Impian terwujud,…. Dengan berprinsip bahwa Dunia Ini Berputar Maka Akan Ada Saatnya Kita Berada Di Bawah Dan Di Atas Selama Kaki Tidak Berhenti Melangkah. Jangan pernah merendahkan orang yang berada di bawah karena mereka memiliki kaki-kaki yang kuat.

Dikala mereka susah tidak seorangpun menganggap mereka saudara, tetapi setelah semua usaha menampakkan hasil semua orang menganggap mereka adalah saudara. Sebelumnya pada suatu hari ketika keluarga Ibu Ida berkunjung ke rumah Adik Iparnya, mereka hanya disuguhi air putih, tetapi sekarang walaupun harus membeli dulu, adik iparnya rela menyuguhkan mereka dengan jus jeruk dan makanan kecil. Dunia memang pilih kasih!!! Welcome to the real world…

Ibu Ida yang hanya seorang penjual kantin mampu menguliahkan Titin dan Popo, kok bisa?? Bila dihitung dengan kalkulator, penghasilan Ibu Ida hanya 50.000 per hari dengan pendapatan bersih 1.000.000 sebulan, ditambah penghasilan suaminya 865.000. Dengan penghasilan ini mereka harus membayar uang listrik, telepon, air, bensin, beras, minyak makan dan hal lain sebagainya, dengan total pengeluaran Rp.2.000.000. Dari mana uangnya??? Sampai sekarang Ibu Ida dan suaminya tidak sanggup menghitungnya…

Setiap Orang Memiliki Rezekinya Masing-Masing, Jangan Ragukan Rahmat
Allah Karena Allah Selalu Adil Pada Ummat-Nya.

Ayu tidak dikuliahkan karena Ibu Ida dan suaminya sangat paham bahwa Ayu tidak akan sanggup menerima pelajaran karena Ayu adalah tipe pembosan. Awalnya Ayu merasa dibedakan, tetapi dengan pengertian yang diberikan, Ayu memahami maksud orangtuanya dan segalanya tidak sia-sia, sekolah teknik membawanya menjadi mekanik terbaik di perusahaan tempatnya bekerja sekarang.

Kunci pemahaman antara orang tua dan anak adalah komunikasi. Bukan hanya kewajiban orang tua yang harus tahu keinginan anaknya, tetapi juga kewajiban anak untuk memberitahukan keinginannya kepada orang tuanya. Komunikasi itu penting!!!!
Beritahu orang tuamu keinginanmu dengan bahasa yang baik, kuncinya adalah komunikasi

——————–

by ra_kartini82

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s