Kumpulan Catatan dan Cerita Anda

Terbaru

Pengingat adzan

Haree genneehh gak inget waktu shalat..?!?!?! Please dong ah..!🙂

Download disini sofware pengingat waktu shalat untuk komputermu..

My First Ramadhan

Pertama kali aku melakukan puasa dibulan Ramadhan adalah dua tahun lalu. – kulakukan 6 bulan sebelum aku memeluk agama Islam. Aku sedang studi di sebuah universiatas di London, tepatnya pada semester terakhir .

Tentu saja aku tidak bilang pada teman-teman  karena aku  khawatir mereka aku mengecap  aku gila. Ini betul betul sesuatu yang sangat pribadi dan pengalaman yang sangat khusus untuk pribadiku yang telah memberiku sebuah kekuatan, ketenangan dan kedamaian dalam hidupku

Puasa yang kedua betul-betul  berbeda,  kali ini betul betul sangat fenomenal dan  mengagumkan. Ramadhan tahun  ini aku menjadi bagian dari sebuah komunitas Muslim lokal, aku  membantu dan bekerja sama dengan Muslim lainnya yang datang dari berbagai latar  belakang dan negara. Walaupun Ramadhan kali ini membuatku sedikit kacau dan melelahkan, tapi dibalik itu  aku betul-betul menikmati karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang juga memiliki pengalaman yang sama seperti aku.

Pada minggu pertama bulan Ramadhan aku tinggal bersama teman Muslim  yang betul-betul sangat  religius, namanya Zahida. Yaa…bangun ditengah malam untuk makan sahur bersama…, sungguh luar biasa indahnya. Hari-hari kami  menikmati  lagu-lagu Nasheed bersama dan mendengarkan Radio Ramadhan, diskusi tentang agama, lalu disiang hari kami masak bersama menyediakan berbagai macam makanan untuk berbuka puasa.

Subuh yang penuh daya magis.

Ada sesuatu yang sangat magis dibulan Ramadhan ini, saat kita bisa menyaksikan semburat jingga  horizon muncul menjelang subuh,  suasananya begitu  hening, tenang, dan damai .., lalu rasa damai itupun  menyelusup ke rongga dadaku hingga membuat diri ini begitu tranquil dan rasa damai menyelimut relung hatiku. Sungguh selama bulan Ramadhan ini kurasakan ada magis yang begitu kuat dan sepertinya keimanan kita menjadi lebih kuat dibanding hari hari biasa. Untukku … menjauhkan diri dari minum dan makan teramat kecil harganya, tak ada artinya  dibanding dengan rakhmat dan barokahnya bulan ini.

Ada lagi nilai tambah yang kudapat bahwa selama bulan Ramadhan pertama (yang resmi) aku sangat menyukai sikap kerja sama dan  rasa ukhuwah  antar komunitas Muslim. Aku selalu  diundang untuk berbuka puasa  oleh keluarga yang berbeda-beda dan dirumah yang berbeda pula disetiap akhir pekan. Rasa ukhuwah dan kepedulian yang begitu melimpah membuat aku dan kita begitu sangat, sangat bahagianya, cuma  repotnya aku terpaksa harus makan lebih di bulan Ramadhan ini dibanding hari hari biasa.

Kopi Conundum.

Problem yang aku  miliki selama bulan Ramadhan adalah kopi conundum yang harus kuminum setiap saat sahur. Jika aku minum kopi pada waktu sahur maka aku tidak akan bisa tidur usai sholat subuh – tapi bila aku tidak meminumnya  maka aku  akan menderita ‘ caffeine sindrom’ hingga saatnya berbuka. Ini adalah suatu contoh bagaimana puasa melawan kelemahan dan nafsu kita dan berupaya  untuk mengatasinya.  Hal ini telah membuat kita bersyukur betapa beruntungnya kita bisa makan dan minum cukup banyak disaat sahur untuk puasa kita di esok hari.

Hari Raya Eid

Hari Raya Eidulfitri jatuh tepat dimusim dingin yang indah dimana matahari bersinar dengan teriknya dan langit begitu biru dan bening. Aku masuk ke palataran masjid ‘Central Mosque’ London dengan senyum yang lebar diwajahku sambil ku-ucapkan  ‘Selamat Hari Raya’ (Eid Mubarak’) kepada setiap orang yan kulewati baik yang kukenal atau pun tidak. Hiruk pikuk mobil dijalanan  begitu riuhnya dan nampak sedikit kacau dan kerepotan mencari tempat parkir.

Usai sholat Eid ..siang itu aku diundang oleh temanku Fozia kerumahnya untuk merayakan hari Eidul Fitri yang aku fikir kacau dan teramat ramai. Kacau karena begitu besarnya keluarga Fozia. Aku tidak terbiasa berkumpul disuatu rumah dengan keluarga semassive itu. Semua datang dihari itu  bersama semua anak-anaknya serta sanak famili. Aku  berupaya keras untuk menyesuaikan diri dengan mereka dan aku berharap tidak mengganggu acara kekeluargaan mereka.

Alhamdulllah  aku betul-betul beruntung bisa menikmati hari Raya bersama dengan keluarga Muslim hari itu. Karena aku berkulit putih dan muallaf (revert) ah.., aku malah mendapat perhatian banyak dari mereka. Kehangatan dan pengakuan mereka layaknya seperti anggota keluarga mereka yang begitu ikhlas, sangat kurasakan… membuat aku begitu terharu.  Sungguh sangat kontradiksi  dibanding  tahun-tahun sebelumnya dimana aku tidak memiliki kenalan atau teman satupun.., dan aku tersenyum sendiri saat aku mengenang Hari Raya Eid pertama, aku cuma merayakan sendirian, aku tak tahu hendak berbuat apa dan mau kemana, lalu memutuskan untuk beli Pizza dan dibawa pulang…ya kumakan sendiri, hehe…

Aku betul- betul menanti bulan Ramdhan ini.., dari pengalaman masa lalu, kini aku bisa mengira ngira dan berharap apa yang bakalan terjadi  dan tentunya aku berharap bisa lebih memperdalam pemahamanku tentang Islam dan meningkatkan keimananku dibulan Ramadhan ini yang aku anggap sangat  spesial dan lebih baik dibanding Ramadhan tahun tahun yang lalu, insya Allah.

Oleh Rebecca Johnson, di sebuah milist

BERPERANG dengan Malaysia, atau mempertahankan persaudaraan besar bernama RUMPUN MELAYU?

SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama;   TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Kedua;   banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga;   Identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di Singapura.

Keempat;   Pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini  (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima;  Banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura,

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan
tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebaliknya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh  segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam,
Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu,

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.

Isu “memanasnya” hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu….

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari  Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara khusus dengan hidayatullah.com [“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya], mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu rumpun”  untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati  dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik  agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan Indonesia-Malaysia,   ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan,  tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras  gas kita dengan Harunnya dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor
di Indonesia.

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.” (QS: al-Hujurat ayat 10)

—  Sumber: Afriadi Sanusi; Penulis yang berasal dari Sumatera, PhD. Candidate Islamic Political Science, University of Malaya, Kuala Lumpur

Buku Tamu yang lucu

2 minggu yang lalu, seperti yang pernah saya tulis, saya pernah kesal dengan pengurus pembuat KTP dan KK berinisial EK di desa Kondang Jaya, Karawang Timur tentang biaya pembuatannya yang tidak masuk akal dan tidak transparan sama sekali.
Setelah itu pula, tanggal 14 Juni 2010 saya coba bertanya via Buku Tamu di situs resmi Kabupaten Karawang (www.karawangkab.go.id) untuk sekedar mencari tau.

Awalnya saya salut melihat buku tamu ini, saya fikir ini adalah salah satu sarana yang bagus yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakatnya, secara 2 arah. Dan finally, berakhir kecewa.

Saya meng-klik tombol ”add new entry” pada Buku Tamu yang ada pada website tersebut. Kemudian muncul kolom yang harus saya isi, mulai nama, lokasi, email dan tentu saja message yang akan saya informasikan/tanyakan. Saya agak sedikit lupa detilnya yang saya tanya saat itu, tidak terlalu panjang, dan intinya simple saja, yang saya tanyakan tentang; ”Berapa standard biaya pembuatan KTP dan KK di Kabupaten Karawang, dan bagaimana isi Perda yang mengaturnya”.

Setelah saya isi message, saya tekan ”submit entry”, dan… muncul keterangan bahwa message telah disimpan. Hehe..memang, yang saya tulis tadi ternyata tidak mucul, disimpan katanya.

Hari ini, tepat lewat 14 hari saya mengajukan KTP dan KK, serta menulis message di Buku Tamu situs resmi Kab. Karawang tersebut. Hasilnya?

KTP dan KK belum jadi. Ketika saya tanya kenapa ke sdr EK (pengurusnya) di Kelurahan, katanya sedang ada masalah di pusatnya. ”Jangankan bapak yang tanggal 14, yang tanggal 7 aja belum jadi Pak..!”, dia menambahkan tanpa meresa bersalah. Wow…amazing..! Sibuk sekali orang-orang pemerintahan kita ya…?!?! Padahal, pas saya kemarin ngajuinnya telat 14 hari saja udah kena denda. Mmmm… mau gimana lagi, adil gak adil, karena kita bukan orang yang berpengaruh, ya telan aja bulat-bulat dan harus setuju kalo itu adil.. Beuh! Aing mah!!! Please deh… sia2 saya datang dan izin dari kantor hanya untuk sesuatu yang gak pasti gini.

Dan juga, alhamdulillah.. pertanyaan saya apalagi jawabannya di Buku Tamu situs Kab. Karawang juga GAK ADA TUH! Masih disimpan kayaknya, tapi entah ampe kapan..??? Mungkin juga pertanyaan saya terlalu unik, sehingga pantes untuk dimuseum-kan.
Sedemikian sulitnya kah pertanyaan saya yang simple itu, sehingga membutuhkan waktu untuk menjawabnya?
Bapak ini lucu..! Ya, kalo mudah mah, saya juga gak akan tanya Bapak atuuuhh..!

Ada sih tambahan 5 jawaban untuk pertanyaan yang berbeda di buku tamu tersebut, dan itu setelah saya. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang biasa, diawali dengan ”TERIMA KASIH….”.
Ck..ck..ck… hebat, menjawab pertanyaan yang mudah-mudah saja, dengan jawaban yang seolah respek dan tak ada masalah.
Seandainya saya nulis message tentang hal-hal yang baik, pasti deh cepat dijawab, biasa.., ”TERIMA KASIH DAN DIINFORMASIKAN….bla, bla, bla…”

Hari ini, saya menulis dengan pertanyaan yang hampir sama seperti yang saya tulis 14 hari yang lalu, dan seperti biasa, ketika saya tekan ”submit entry” muncul informasi message saya telah disimpan. Disimpan sampai kapan? Hehe…Entahlah…., mudah-mudahan sih segera.
Jadi ingat tentang fasilitas sms komunikatif program presiden SBY dulu, yang ternyata yang menjawab adalah mesin otomatis. Saya juga jadi bertanya pula tentang situs ini, siapakah gerangan yang menjawab pertanyaan di Buku Tamu ini? Bupati kah? Atau orang yang berkompeten yang ditunjuk Bupati? Atau orang yang hanya magang di kantor Bupati yang hanya disuruh nulis? Pesuruh? Heuheu.. teuing ah!

Sebuah fenomena yang aneh…
Lucu deh Buku Tamu kalian, Pak..

Keistimewaan & Puasa Bulan Rajab

Pada hari Senin tanggal  14 Juni 2010 kita memasuki bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulannya  Allah. Mari kita simak ada apa di balik bulan Rajab  itu. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,  “Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka:

  1. Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan  ikhlas,  maka pasti  ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH  SWT;
  2. Barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj  ( 10 Juli 2010 ) akan mendapat pahala seperti 5 tahun  berpuasa;
  3. Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT;
  4. Barang siapa yang  berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3  Rajab ( 14 , 15, 16 Juni 2010 ) maka ALLAH akan memberikan pahala seperti  900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat;
  5. Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insyaallah permintaannya akan dikabulkan;
  6. Barang siapa berpuasa  tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka  Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga;
  7. Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam  bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu  dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang  siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan  pahalanya.”

Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam Mi’raj,  saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih  sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya  bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk  orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab  ini”.

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita : “Ketika kami  berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah  berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya  Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda  :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya  berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa   atas  mereka”.

Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya  mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di  bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam  kubur.”

Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa  satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat  mengelakkan dari siksa kubur?”

Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi  ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim  lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat  malam sekali dalam bulan  Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali  ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan  sholat malam satu tahun.”

Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab  adalah bulan ALLAH, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan  adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar  pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi dan orang orang  yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan  Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan  merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Selamat beribadah..

sumber milis [sekolah-kehidupan]

Kontingen Indonesia di Piala Dunia 2010

Meski gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 dan gagal pula saat mengajukan tuan rumah Piala Dunia 2020, Indonesia tak perlu berkecil hati. Pada pergelaran pesta olahraga terbesar dunia di Afrika Selatan kali ini, kita juga mengirimkan beberapa “wakil”, meski bukan di lapangan hijau. Siapa mereka? Simak daftarnya di bawah ini:

Pencak Silat

Sehari sebelum pesta pembukaan dilaksanakan, Afrika Selatan menggelar festival tahunan Musamba di Pretoria. Kali ini acara itu dibuat besar-besaran untuk menyambut Piala Dunia 2010. Tampil dalam festival 10 Juni 2010 itu antara lain adalah 35 murid pencak silat dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Afrika Selatan yang memukau penonton. Ini pertama kalinya pencak silat tampil dalam festival ini.

Bola Majalengka

Selain Jabulani (bola resmi Piala Dunia 2010 yang dibuat Adidas), Afrika Selatan juga mengundang pemasok bola lain untuk mendukung hajatan empat tahunan ini. Khususnya, untuk memproduksi souvenir resmi kejuaraan – yang juga dijual di berbagai tempat resmi.

Salah satu pemasok bola resmi itu adalah PT Triple S yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat. Selain dari Indonesia, Afrika Selatan juga mendatangkan bola dari Vietnam untuk maksud serupa.

Batik

Sangat mungkin Nelson Mandela akan tampil di pembukaan Piala Dunia 2010 dengan mengenakan pakaian batik dari Indonesia. Sejak kedatangannya ke Indonesia, pemimpin Afrika Selatan ini tergila-gila pada batik. Begitu cintanya pada batik Indonesia, sampai-sampai di banyak acara kenegaraan Nelson Mandela selalu mengenakan batik Indonesia rancangan Iwan Tirta. Tahukah Anda, ketika pengundian grup Piala Dunia 2010 Nelson Mandela juga mengenakan batik.

Nah, meski tim sepakbola Indonesia tak berlaga di Piala Dunia 2010, ternyatasejumlah produk Indonesia bisa “berlaga” di sana. Jadi, tak perlu berkecil hati, Indonesia tetap punya wakil di Piala Dunia 2010!

sumber : andriewongso.com

Duuh..mahalnya jadi warga negara yang tertib administrasi

Saya lahir di Kuningan Jawa Barat. Hampir 4 tahun saya tinggal menetap di rumah sendiri di Kabupaten Karawang. Perumahan Griya Kondang Asri, Kondang Jaya tepatnya. Dan selama itu pula saya belum mempunyai KTP serta Kartu Keluarga (KK) Karawang, masih menggunakan KTP asli daerah Kuningan, walaupun dari segi asministrasi lain seperti ID PLN & PBB sudah tertera alamat Karawang.

Sebulan yang lalu, saya bermaksud mengganti kependudukan saya (tanpa istri, karena saat ini istri saya beralamatkan Jakarta dan belum dapat Surat Pindah) menjadi warga Karawang, dimana saat ini saya bermukim. Namun, dikarenakan kesibukan pekerjaan, saya meminta tolong keluarga di Kuningan untuk membuatkan surat pindah dari daerah asal saya tersebut. Dan, cukup waktu 5 hari, Surat Keterangan Pindah itu sudah saya terima. Lumayan cepat, karena itu sudah termasuk waktu pengiriman via Pos dari Kuningan ke Karawang. Biaya yang dikeluarkan adalah  60ribu…

Hari ini Senin 14 Juni 2010 kebetulan saya libur, sengaja mengambil cuti, khusus untuk mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK). Pagi saya ke tempat pak RT. Setelah mendapatkan surat pengantar, saya bergegas menuju ke Kelurahan.

Saya tidak melihat prosedur dan alur proses di dinding informasi ataupun media lain tentang apa yang harus saya lakukan untuk membuat KTP dan KK tersebut. Dan, kebetulan di Kelurahan ada seorang bapak dengan pakaian PNS menyapa saya menanyakan maksud kedatangan saya. Dia kemudian mengajak saya ke ruangan dia, yang memang kepada dia lah saya harus mengurusnya.

Setelah saya serahkan berkas-berkas pendukung, dia memeriksa sebentar lalu mengintruksikan saya untuk pergi ke kantor Catatan Sipil. Baru saat itulah saya tau, ternyata untuk ke Kelurahan harus ke Catatan Sipil dulu, walaupun dalam hati saya yang awam berfikir “Kok gitu, apa gak kebalik? Instansi terdekat dengan rumah saya secara hirarki kan Kelurahan dulu..”. Tapi sudahlah, mungkin seperti itu prosedurnya.

Bermodal secarik kertas Surat Keterangan Pindah yang saya dapat dari Kuningan, yang memang disitu dituliskan “Untuk Catatan Sipil”, saya menuju Catatan Sipil Karawang, disana saya menuju sebuah loket dan setelah berkonsultasi, saya diberikan sebuah form untuk saya isi. Selesai mengisi, saya serahkan kembali ke petugas tersebut. Saat pengembalian, meminta KTP saya yang lama, dan KK jika ada.

“Whattt…??? ini pertanyaan becanda atau pertanyaan bodoh?” gumam saya dalam hati. Kalo udah ada surat keterangan pindah, ngapain juga harus ada KTP lama? Sedangkan KTP lama saya tentu saja sudah diserahkan ke petugas di Kuningan saat akan membuat Surat Pindah. Bagaimana sekarang bisa harus ada?

Akhirnya dia meminta copy-annya aja, yang kebetulan saat itu saya masih punya. Sebentar setelah petugas tersebut memeriksa data yang saya isi, kemudian bilang;

“Biaya administrasinya 25ribu Pak. Karena bapak juga terlambat mengurusnya, lebih dari 14 hari, maka ditambah denda 10ribu. Total jadi 35rb”

“Oooh..  biayanya segitu yah?” bilang saya sambil menyerahkan uang 100 rb. Dia kembalikan uang saya 65 ribu dan menyuruh saya untuk menunggu, nanti dipanggil katanya.

Setengah jam saya menunggu belum dipanggil juga, hingga tiba waktu istirahat. Jam 12 loket ditutup, terpaksa saya harus menunggu dia istirahat. 1 jam. Cape deeehh..!

Sambil menunggu, iseng saya baca-baca pengumuman-pengumuman yang ditempel seadanya di kaca. Oooh.. ternyata memang disitu disebutkan pernyaratan dokumen penunjang untuk Catatan Sipil. Juga biaya administrasinya. Biaya administrasi tersebut dituliskan mengacu ke Perda Karawang nomor 4 tahun 2009. Jadi penasaran.. isinya apa yah itu Perda..?

Saya juga ternyata punya teman senasib sepenungguan. Sambil ngobrol, baru saya tahu ternyata dia sudah pulang balik dari Kelurahan dia ke Catatan Sipil sebanyak 3 kali, sejak Jumat yang lalu, karena kekurangan admisnistrasi. Upppsss…. ternyata ada yg lebih parah dari gue..! Tapi dari omongannya, saya bisa membaca bahwa dia kurang mendapatkan kejelasan informasi dari Kelurahannya tentang alur / prosedur pengurusan KTP dan KK, sehingga harus 3 kali bolak balik, dengan waktu sekali balik sekitar setengah jam.

Selesai istirahat, jam 1 loket buka kembali dan tak lama dia langsung memanggil saya. Sepertinya saat loket mulai buka, Surat Keterangannya tinggal dia cek aja.

“Mas… mas..! mbok ya diselesaikan dulu toh tadi, tinggal cek dikit aja apa ruginya. Gak nyampe 5 menit, tadi pasti udah selesai. Gak mesti nyiksa orang disuruh nunggu 1 jam..! Please deh..!” gumam saya dalam hati.

Jam 1 lewat 20 saya kembali ke Kelurahan.

“Waduh.. kok kelurahannya kosong, gak ada orang sama sekali..!! Apa udah tutup ya?” fikir saya. Tapi ternyata tidak, selang 5 menit, orang yang tadi saya temui datang dengan motor Mio nya ke halaman kelurahan.

“Oooh… ternyata istirahatnya sampai jam 1 lewat 20 menit, lama juga! Jam 3 pulang. Enak…”.

Saya ikuti dia ke ruangannya.

“Mas, photonya salah nih.. harusnya berwarna..”, dia bilang ke saya.

“Lha.. itu kan berwarna pak..”, jawab saya

“Backgroundnya harus warna merah. Aturannya begitu, untuk kelahiran tahun ganjil, backgroundnya merah, sedangkan untuk tahun genap backgroundnya biru” ujarnya menjelaskan.

“Baru tau juga ada peraturan begini ..” gumam saya dalam hati. Memang waktu itu photo yang saya pake walaupun berwarna, backgroundnya putih.

Karena males ke rumah untuk mengutak atik sofcopy photo di laptop saya, saya pergi aja ke toko photo terdekat untuk mengedit background pas photo saya. Setelah diedit dan dicetak 2 lembar, saya bayar 4 ribu rupiah.

Saya balik lagi ke Kelurahan,  setelah menyerahkan 2 pas photo tersebut, dia nagih biaya administrasi.

“Semuanya 80 ribu mas..” ujar dia to the point.

“Upppsss…. mahal banget pak? Tadi saya diinformasikan pak RT Cuma 10 ribu perpengajuan. Karena dengan KK bukannya jadi 20 ribu?” bela saya.

“Iya, perlembarnya 10 ribu. 10 ribu untuk kelurahan, 10 ribu untuk Kecamatan, 10 ribu untuk Catatan sipil. Karena telat 14 hari, denda lagi 10 ribu. Karena bikin 2 (KTP dan KK-red), maka dikali dua, jadi 80 ribu”

“Ke Catatan Sipil lagi? Bolak balik dong, tadi kan saya udah! wasting time! Itu ketentuan dari mana asalnya pak? Saya gak melihat aturannya disini secara tertulis.” Ujar saya lagi.

“Itu memang dari sananya, memang ketentuannya seperti itu” ujar dia lagi.

“Mahal sekalllliii…?? Ya udah, kalo gitu saya buatkan deh bukti pembayarannya.. biar saya juga tau transparansinya..!”

“Saya gak bisa buat kwitansi mas!”

“Kenapa?”

“Karena kami memang gak pernah pake kwitansi! Mas rewel banget yah. Susah kalo yang minta KTP nya bekas mahasiswa mah! Apa-apa ditanyain!” nadanya mulai tinggi.

“Lho.. pak, kami itu warga. Kami kesini dgn maksud baik untuk tertib administrasi. Jika memang ada biaya sedemikian yg harus kami bayar, ya nggak apa-apa asal dibuat transparan. Dipampang di dinding pengumuman Kelurahan. Alur proses pembuatan KTP, biaya per alur proses..! Sehingga tiap orang yang akan buat KTP sudah tau perkiraan biayanya. Salah kalo kami tanya dasar biaya tersebut?”

“Ya udah bentar..! Mas sama seperti orang perumahan lainnya! Rewel..!!” gerutu dia sambil kemudian mencari arsip di lemari dia. Katanya sih ada surat dasarnya. Tapi alhamdulillah… GAK ADA! Entah pura2 mencari arsip, atau memang gak ada..!

Ternyata bukan gue aja yang nanya, hampir beberapa orang yang membuat KTP menanyakan hal yang sama. Dan kayaknya jawabannya pun sama seperti jawabannya kepada saya. Bilang kami rewel dan cukup dengan “Emang begitu dari sananya..!” Cape deh! Dan, kok bisa ya, setelah beberapa kali ditanyakan, selanjutnya dia tidak prepare dasarnya (jika ada) sehingga dia bisa menjelaskan lebih transparan ke pengaju KTP selanjutnya? Kesalahan berulang..!! OMG.. beginikah wakil rakyat yang terpilih menjalankan tugasnya sebagai public services..?? No corrective action..!

“Ya udah, mas maunya gimana?” ujarnya selesai mencari arsip yg gak ketemu.

“Ya mau gimana lagi, kalo gak ada dasarnya gak usah dicari! Udah, saya bayar nih 80 ribu! Kapan jadinya”  ujar saya.

“Minimal 14 hari. Bisa lebih dari itu..!”

“Whaaattttt…..???? minimal 14 hari?? Lama bangettt…!!!! Saya jalan kaki ke Kuningan bolak balik pun mungkin gak selama itu..!!!!”

Ketika saya tanya knapa lama, seperti biasa, dia hanya bilang. Emang seperti itu dari sananya Mas.. prosedurnya! Yang secara real, dia tidak bisa menunjukkan ada prosedurnya..!!

Dia juga bilang bahwa, saya juga yang harus datang ke Kelurahan nantinya untuk menanyakan dan mengambil apakah KTP nya udah jadi apa belum. Dia tidak menyerahkannya ka saya ataupun lewat kepala RW/RT tempat saya. OMG…. Public Service yang menyusahkan!

Saya telat 14 hari mengajukan surat pindah ke Kelurahan / Catatan Sipil aja di kenakan denda, sedangkan penyelesaiannya yang katanya minimal 14 hari dia (instansi pemerintah terkait) tenang-tenang aja..!!! IS IT FAIR..?????

Setelah menyerahkan 80 ribu rupiah, dengan sedikit mengumpat, akhirnya saya pergi meninggalkannya..! Percuma juga marah-marah terhadap dia, gak bakal ada penyelesaian yang berarti saat itu juga. Bagaimana hari-hari selanjutnya…? Gak tau, saya sangat menyangsikannya.

So, how much totally? 175 ribu..!  Dan, itu tanpa bukti pembayaran yang transparan… Itu harga dasar diluar ongkos kirim, ongkos transport, poto copy buat photo dll.

Saya sebagai pegawai, mungkin masih mampu untuk mengeluarkan biaya sebesar itu. Terfikir oleh saya, bagaimana dengan penduduk lain yang untuk makan 1 minggu, bahkan 1 hari ke depan belum pasti ada. Atau juga keluarga yang hanya bermodalkan gaji UMR, tetapi harus menyisihkan untuk makan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar sekolah anak, dll. Maukah dia mengeluarkan biaya segitu untuk hanya tertib administrasi? Tak heran jika saya pernah mendengar untuk mendapatkan pembagian makanan dari pemerintah, pelayanan kesehatan, dll, mereka bingung dan tersandung karena disyaratkan tidak ada KTP. Bukan tidak mau, tapi tidak mampu membuatnya. Karawang yang katanya lumbung padi terbesar, ternyata dari data terakhir adalah kabupaten dengan tingkat tertinggi masalah keukurangan pangan. Knapa sih, gak diperingan untuk hal-hal yang sepele seperti ini?

Sering kita dengar, termasuk yang saya dengar dari Pak Lurah Kondang Jaya Karawang Timur tempat saya bermukim, saat kampanye calon lurah beberapa tahun kemarin, “Ongkos pembuatan KTP… GRATIS!!, jalan-jalan akan diperbaiki, bla..bla..bla..” .

Buktinya? Nothing…! It’s totally… BULLSHIT!

Teman, mungkin banyak diatara kalian yang saat ini bekerja di Instansi Pelayanan Masyarakat. Saya tidak bermaksud menyalahkan bahkan membenci anda. Saya hanya ingin berbagi dan mengajak anda melihat dari sisi seorang personil non-instansi.

Saya kira, banyak sekali Pekerjaan Rumah nya, khususnya bagi instansi yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Mulai dari sosialisasi prosedur untuk proses tertentu, transparansi biaya, peningkatan kemudahan dan keramahan pelayanan, kecepatan pelayanan, kerapihan arsip, dll.  Betul, memang sistem yang harus berjalan disini, harusnya dimulai dari tingkat atas. Tapi, jikalau dari tingkat atas sendiri tidak memulainya, apakah kita sebagai pelaksana dan juga bagian dari masyarakat tersebut, hanya menunggu komando dan tidak punya nurani untuk memulai perubahan meringankan keinginan masyarakat yang punya itikad baik untuk tertib peraturan?

Saya tidak tahu, mungkin di daerah lain kondisinya lebih baik dari daerah saya. Karena, katanya semuanya diatur dalam Perda masing-masing daerah. Saya juga tidak tahu, apakah terjadi hal yang sama untuk pembuatan administrasi lain di daerah saya seperti SIM, Pasport/Imigrasi, Pajak, Pajak kendaraan, dll. Atau..lebih parah? Semoga sih tidak..

Tapi untuk saat ini, saya dan juga penduduk Karawang lain yang mungkin kurang beruntung nasibnya dalam hal ekonomi di banding saya, hanya bisa bilang..” Uuuhh… mahalnya jadi warga negara yang taat administrasi..”

Karawang
100614

%d blogger menyukai ini: